Gue Dulu Kuping Sakit Gara-Gara Salah Sendiri
Jujur aja, waktu pertama pensiun tiga tahun lalu, gue bingung mau ngapain. Anak-anak udah pada kerja, istri sibuk sama tanaman, dan gue cuma duduk di teras sambil bengong. Sampai suatu hari, tetangga ngajak gue main gitar. Gue pikir, "Ah, gampang lah, dulu gue juga bisa." Ternyata nggak segampang itu. Bukan karena jari gue kaku, tapi karena gue melakukan hampir semua kesalahan yang biasa dilakukan orang seusia gue soal musik.
Nah, dari pengalaman itu, gue mau cerita soal kesalahan-kesalahan umum yang sering dilakukan pensiunan kayak kita. Bukan buat menggurui, tapi biar kamu nggak mengalami hal yang sama. Percaya deh, belajar dari kesalahan orang lain itu jauh lebih murah daripada belajar dari kesalahan sendiri.
Baca juga: Telinga Bisa Buntu Tanpa Sadar, Ini Cara Kerja Pakai Playlist
Salah Kaprah Soal Volume: Makin Keras Bukan Berarti Makin Nikmat
Ini kesalahan nomor satu yang gue lakukan. Waktu itu gue beli speaker kecil, terus gue putar lagu-lagu Koes Plus dengan volume maksimal. Rasanya kayak muda lagi. Tiga hari kemudian, kuping gue berdenging dan kepala pusing. Ternyata, telinga kita nggak sekuat dulu. Sel-sel rambut di dalam telinga yang bertugas menangkap suara itu makin lama makin aus, dan suara keras mempercepat kerusakannya.
Menurut WHO, paparan suara di atas 85 desibel dalam waktu lama bisa merusak pendengaran permanen. Speaker rumahan yang diputar maksimal bisa mencapai 100 desibel lebih. Bayangin kalau kamu dengar setiap hari selama satu jam. Lama-lama pendengaran kamu rusak, dan itu nggak bisa balik lagi.
Nikmati musik bukan dengan telinga yang dipaksa, tapi dengan hati yang santai.
Cara menghindarinya gampang. Pertama, atur volume maksimal 60 persen dari kemampuan speaker. Kedua, kalau pakai headphone, ikuti aturan 60/60: volume 60 persen, maksimal 60 menit sehari. Ketiga, kalau habis dengar musik kuping berdenging, itu tanda volume kamu kelewat batas. Turunin, jangan ditawar.
Maksa Main Alat Musik yang Nggak Cocok
Kesalahan kedua gue adalah memaksakan diri main gitar akustik padahal jari gue udah mulai kaku karena rematik ringan. Hasilnya? Dua minggu main, jari bengkak, dan gue jadi kapok. Padahal ada banyak alat musik lain yang lebih ramah buat tangan senior.
Pilih Alat Musik Sesuai Kondisi Fisik
Kalau tangan kamu udah nggak sekuat dulu, coba pertimbangkan beberapa pilihan ini:
- Ukulele — senarnya lebih lembut, ukurannya kecil, dan nggak perlu tenaga besar buat menekan.
- Keyboard atau piano digital — tinggal pencet, nggak perlu kekuatan jari yang besar.
- Harmonika — cukup tiup dan hisap, cocok buat yang punya masalah sendi.
- Kalimba — alat musik jempol yang makin populer, suaranya menenangkan, dan mainnya santai.
- Perkusi ringan kayak cajon — buat kamu yang suka ritme tapi nggak mau ribet.
Intinya, jangan egois sama tubuh sendiri. Musik itu buat senang-senang, bukan buat nyiksa diri. Kalau alat musiknya bikin sakit, ya ganti. Nggak ada yang salah dengan itu.
Ngejar Genre yang Bikin Stres, Padahal Musik Itu Obat
Ini yang sering gue lihat di komunitas pensiunan. Banyak yang masih pengen dengerin musik metal atau lagu-lagu bertempo cepat karena merasa itu "identitas muda" mereka. Nggak ada yang salah dengan selera, tapi ada baiknya kita sadar soal efeknya ke tubuh.
Penelitian dari McGill University menunjukkan bahwa musik yang menenangkan bisa menurunkan kadar kortisol, hormon stres. Sebaliknya, musik bertempo cepat dan berisik bisa meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Buat kita yang udah senior, tekanan darah stabil itu mahal harganya.
Gue bukan bilang kamu harus dengerin musik tidur terus. Tapi coba deh, sesuaikan musik sama suasana hati dan kondisi tubuh. Pagi hari, putar lagu-lagu ceria kayak Iwan Fals atau Ebiet G. Ade. Siang, mungkin jazz ringan. Malam, musik instrumental buat relaksasi. Tubuh kamu bakal berterima kasih.
Nggak Mau Belajar Teknologi, Padahal Musik Sekarang Gampang Diakses
Nah, ini kesalahan yang paling sering gue dengar dari teman-teman sepuh. "Ah, gue nggak ngerti Spotify." "YouTube itu buat anak muda." Padahal, teknologi musik sekarang itu justru mempermudah hidup kita.
Dulu, buat dengerin lagu kesukaan, gue harus beli kaset atau CD. Sekarang, cukup pencet layar HP, semua lagu dari zaman SMA gue ada. Gratis lagi. Gue aja yang awalnya gaptek, sekarang udah bisa bikin playlist sendiri. Rasanya kayak punya radio pribadi yang muterin lagu sesuai selera gue.
Kalau kamu masih ragu, minta tolong cucu atau anak buat ngajarin. Sekali belajar, biasanya langsung bisa. Yang penting jangan malu bertanya. Nggak ada kata terlambat buat belajar hal baru, apalagi kalau itu bikin hidup lebih nikmat.
Main Musik Sendirian Terus, Padahal Komunitas Itu Penting
Kesalahan terakhir gue adalah terlalu lama main musik sendirian. Selama setahun pertama pensiun, gue cuma main gitar di kamar. Nggak ada teman diskusi, nggak ada yang ngajak tampil. Lama-lama bosen juga.
Begitu gue gabung komunitas musik pensiunan di kecamatan, hidup gue berubah. Kami main bareng setiap Sabtu pagi. Kadang tampil di acara hajatan, kadang cuma ngopi sambil ngobrol soal lagu. Yang penting, gue punya teman. Musik jadi alasan buat kumpul, dan kumpul itu sendiri udah jadi obat buat kesehatan mental.
Kalau di daerah kamu belum ada komunitas kayak gitu, coba bikin sendiri. Ajak dua tiga tetangga yang suka musik. Nggak perlu yang jago, yang penting mau main bareng. Siapa tahu, dari situ kamu nemu sahabat baru di masa tua.
Jadi, Mulai dari Mana?
Kalau kamu baru mau mulai atau lagi memperbaiki cara bermusik, mulailah dari hal kecil. Atur volume dulu. Pilih alat musik yang nyaman. Sesuaikan genre dengan suasana hati. Pelajari satu aplikasi musik. Dan yang paling penting, cari teman buat berbagi.
Masa pensiun itu bukan akhir dari segalanya. Justru ini waktu di mana kita bisa menikmati musik tanpa tekanan. Nggak perlu jadi musisi terkenal, nggak perlu tampil di panggung besar. Cukup duduk di teras, main lagu favorit, sambil senyum-senyum sendiri. Itu udah cukup bahagia buat gue. Semoga buat kamu juga.